Terjemahkan

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
« »

H.M.Muslich dan Kerajinan Cangkang Telur : “MENGUBAH LIMBAH MENJADI BERKAH”


       SRAGEN - Pernahkah terbayang limbah cangkang telur yang keras dapat menjelma menjadi barang indah bernilai seni? Ditangan seorang pensiunan PNS Pemkab Sragen H.M Muslich cangkang telur ini dapat berdaya guna menjadi souvenir beraneka rupa yang indah sebagai pajangan.


       Ide awal menekuni usaha souvenir ini dimulai sejak tahun 2002 lalu. Menjalani rutinitas sebagai pensiunan yang tidak banyak aktifitas membuatnya merasa bosan. Pada suatu hari terinspirasi dari acara di TV yang menayangkan kerajinan telur, ia berinisiatif untuk mencoba memulai berkreasi dengan cangkang telur. Material yang digunakan berupa segala macam kulit telur. Dari kulit telur ayam, telur bebek, telur burung puyuh hingga telur ayam kampong. Masing masing telur memiliki keistimewaan sendiri sendiri.

       Tidak mudah memulai usaha ini. Namun bapak tiga anak ini berprinsip jika ada kemauan pasti ada kemampuan. “Sekitar dua bulan saya mencoba trial and error, hingga pada akhirnya saya menemukan teknik yang tepat untuk mengolah limbah telur ini” ujarnya.

       Cangkang telur yang beraneka ragam dapat dibuat kerajinan berupa lukisan, tulisan kaligrafi, prasasti pernikahan serta sebagai mosaik pada guci atau keramik. Serpihan cangkang telur dirangkai sedemikan rupa dan direkatkan pada media yang ada. Serpihan cangkang telur dengan orisinalitas warnanya menjadikan souvenir dengan material ini tampil indah dan menarik. Walaupun seorang diri, pria yang telah berusia 62 tahun ini mampu menjadikan setiap pesanan yang ada mulai satu hari hingga lima hari. Jangan khawatir souvenir ini akan lapuk atau rusak, karena di atas permukaan kaligrafi maupun prasasti yang ada telah disemprot dengan zat pengawet sebagai pelindung.

        “Cangkang telur berupa kaligrafi yang berisi kalimat tarbiyah saya tawarkan kepada teman teman di IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Sragen” jelasnya menjawab pemasaran souvenir ini. Selain itu, souvenir ini telah ia kirim ke berbagai daerah di luar kota, diantaranya Jakarta, Bogor, Klaten dan Semarang. Selain itu, ia juga menawarkan souvenir ini ke berbagai hotel serta rumah makan sebagai hiasan atau kenang kenangan kepada para tamu.

       Saat ini hasil karya nya telah dipampang di Tecnopark Sasana Ganesha Sukowati Sragen, bersama dengan kreasi souvenir yang lain. Selain itu terdapat showroom yang terletak di rumahnya Kampung Baru bendungan Kedawung Jl. Sragen-Kedawung Km 7 Sragen. Untuk anda yang berniat memesan hasil kreasi kerajinan telur ini bisa menghubungi H. M Muslich Sanggar Seni Handicraft AMP (AL MUSLICH PRODUCTION) No Telp (0271) 8825569. (Ryan - Humas)

Baca Selengkapnya...

Pemilihan Duta Wisata Sukowati 2009

       SRAGEN - Pemkab Sragen kembali menyelenggarakan Pemilihan Duta Wisata Sukowati tahun 2009. Sebanyak 92 calon Duta Wisata Sukowati 2009 yang terdiri dari 44 putra dan 48 putri mengikuti serangkaian tes mulai Sabtu (3/10).


        Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Disparbudpor) Sragen, P. Poedarwanto, S. Sos, MM, tugas Duta Wisata Sukowati ini antara lain mempromosikan potensi pariwisata yang ada di Bumi Sukowati. Untuk itu, kompetisi Duta Wisata Sukowati tahun ini para peserta diminta membuat karya tulis tentang kepariwisataan di Kabupaten Sragen. Nantinya karya tulis ini akan masuk penilaian dan akan dipublikasikan ke masyarakat umum.

        Sementara, tes bagi calon Duta Wisata Sukowati dilaksanakan selama tiga hari, dan berakhir Senin (5/10). Untuk jadwal kegiatan hari Sabtu lalu, calon Duta Wisata Sukowati melakukan kunjungan ke Technopark Ganesa Sukowati. Mereka dikenalkan dengan seluruh kegiatan yang berlangsung di tempat tersebut.

        Setelah mengunjungi Technopark Ganesa Sukowati, putra-putri Sragen ini menuju Sanggar Seni Sukowati (Gedung Auditorium Kabupaten Sragen) untuk mengikuti pembekalan. Materi pembekalan berupa Ngadi Saliro (cara merawat tubuh) dan Ngadi Busono (cara berbusana), Etika dan Kepribadian. Materi ini disampaikan oleh Yayuk Fauzan dari Persatuan Ahli Kecantikan Indonesia (PAKI) Sragen. Pada sesi Ngadi Saliro dan Ngadi Busono, para peserta diberikan pengetahuan mengenai cara ber make-up (merias diri), merawat wajah, menata rambut, serta diajarkan cara me wiru jarik dan menggunakan stagen.

        Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi penyuluhan pajak, kepariwisataan dan dinamika kelompok. Pada sesi dinamika kelompok, para peserta diberikan penjelasan dan praktek kerja kelompok (teamwork). Selain itu, peserta juga diberikan meteri mengenai etika keprokolan dan tata cara makan.

        Usai serangkaian tes tersebut, seleksi selanjutnya diantaranya tes tertulis dengan materi pengetahuan umum, kepariwisataan, psikotes, tes wawancara Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa serta unjuk bakat.

        Pada hari berikutnya akan diumumkan peserta yang lolos seleksi dan ditentukan 20 pasang peserta putra-putri yang berhak maju ke babak grand final. Sedangkan Grand Final dan malam penobatan Duta Wisata Sukowati 2009 ini, menurut rencana akan digelar di Technopark Ganesha Sukowati pada Rabu (7/10) mendatang. (Nova_Humas)
Baca Selengkapnya...

Batik Semakin Disukai oleh anak-anak


       SRAGEN - Batik kini tidak hanya banyak dipakai oleh kalangan dewasa saja. Akhir-akhir ini ada kecenderungan peningkatan jumlah pemakai batik dari kalangan anak-anak. Hal ini diungkapkan oleh Haryanti, S.Sn Manager Batik Sukowati.


       Pada waktu menjelang lebaran lalu, baju-baju batik anak-anak koleksi Galery Batik Sukowati habis terjual. “Padahal waktu itu kami sengaja memperbanyak stok baju batik untuk anak-anak, dan ternyata habis terjual juga,” katanya. Hal ini, menurutnya adalah sebuah indikator bahwa batik mulai disukai oleh anak-anak.

       Ditambahkanya, batik memang sangat cocok sekali dipakai oleh kalangan anak-anak di segala suasana. Misalnya saja, pada acara ulangtahun, jalan-jalan bersama keluarga atau bahkan pada acara resmi.

       Di Galery yang dikelolanya, banyak disediakan baju-baju batik anak-anak dari segala macam motif dan bahan. Ada yang berbahan dari kaos, katun dan bahan-bahan lainnya. Untuk bersaing dengan pakaian modern saat ini, dirinya tidak kawatir. Karena, menurutnya, batik telah menunjukkan eksistensinya selama ratusan tahun selama ini. Terlebih lagi, Jum’at kemaren batik telah diakui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) sebagai warisan budaya milik Indonesia. Hal ini membuatnya semakin optimis bahwa kedepan batik akan semakin dicintai dan semakin banyak dipakai oleh semua kalangan.

       Sementara menurut Anita, warga Sragen Kulon, salah satu pembeli di galery batiknya, mengungkapkan bahwa baju anak-anak yang berbahan dasar batik sangat nyaman dipakai oleh anak-anak. “Baju batik akan terasal ebih adem bila dipakai, hal ini sangat cocok dipakai oleh anak-anak yang cenderung lebih banyak gerak,” terang Anita.

       Semua bahan baju-baju batik yang menjadi koleksi Galery Batik Sukowati merupakan bahan-bahan lokal hasil karya pembatik-pembatik lokal sragen. Dan ternyata hasil karya produk lokal tidak kalah bersaing dengan produk-produk luar negeri. Buktinya, baju-baju batik produksi lokal sekarang in telah banyak dijual di mall-mall besar di berbagai kota di Indonesia. (N. Hart - Humas)
Baca Selengkapnya...

Kreatifitas Mampu Tingkatkan Cita Rasa Singkong

       SRAGEN - Singkong merupakan tanaman yang tidak asing bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Selama ini singkong biasanya hanya diolah menjadi singkong direbus atau singkong digoreng saja, paling banter menjadi makanan yang disebut gethuk. Namun, ternyata singkong bisa diolah menjadi aneka jenis makanan yang bercita rasa nikmat yang tidak kalah dengan makanan berbahan dasar gandum atau terigu.


       Salah satu Satuan kerja dilingkungan pemkab Sragen, yaitu Badan Diklat Kabupaten Sragen, tela mengembangkan kreasi dengan mengolah singkong menjadi berbagai macam makanan / kue. Sejak pertengahan tahun ini, tangan – tangan kreatif karyawati yang tergabung dalam unit pengolahan produksi telah mengadakan eksperimen pengolahan makanan yang berbahan dasar singkong. Dari eksperimen tersebut dihasilkan beberapa jenis makanan yang semuanya berbahan dasar singkong.

       Kue berbahan baku singkong tersebut mempunyai bentuk yang sangat beragam dengan cita rasa yang beragam pula. Ada kue rambutan, kue coklat keju, coklat wijen dan putri salju dan lain lainnya sejumlah sembilan jenis. Nama kue disesuaikan dengan bentuk dan campuran bahan yang digunakan. Misalnya saja kue coklat kacang, pada bahan yang digunakan selain menggunakan tepung singkong juga ditambahkan coklat dan kacang tanah. Sedangkan kue yang diberi nama kue rambutan karena bentuknnya yang menyerupai rambutan. Menurut penanggung jawab produksi makanan lokal, Siti Rochimiatun, dengan penampilan yang begitu menarik, diharapkan dapat meningkatkan derajad penampilan dan akan menambah ketertarikan terhadap kue ini.

       Sementara menurut Kepala Badan Dikat Kab.Sragen, Drs. Sumarna, MM, singkong merupakan makanan yang murah dan banyak tumbuh disekitar kita, sehingga sangat potensial sekali bila diolah menjadi berbagai makanan seperti makanan yang berbahan dasar gandum. Selama ini kebanyakan kue yang dijual di toko merupakan kue yang berasal dari terigu dan gandum, sementara gandum merupakan produk import. Hal tersebut menyebabkan ketergantungan pada produk import. “Kenapa kita harus menggunakan produk import sementara kita mempunyai produk lokal yang murah dan kandungan gizinya tidak kalah dengan gandum” kata Drs. Sumarna, Msi. Kedepan, Badan Diklat akan mempatenkan penemuan ini. “Bulan Januari nanti, produk ini akan kami patenkan” tegasnya.

       Meski masih dalam kapasitas produksi yang kecil, sehari – harinya, di unit pengolahan makanan lokal ini, singkong diolah oleh para alumnus pelatihan produksi makanan hingga menjadi makanan siap saji. Mulai dari mengupas singkong, menggiling, memasak hingga mencetak dan pengemasan. Semua dilakukan disini. Setelah makanan hasil olahan para para alumnus pelatihan produksi tersebut dikemas, maka kue berbahan dasar singkong tersebut siap dipasarkan. Harganya pun sangat terjangkau mulai dari Rp. 9.000 hingga yang paling mahal Rp. 13.500. Menurut Siti, tidak susah untuk memasarkan hasil produksinya, bahkan tidak usah di jajakan, ia sudah kewalahan menerima pesanan. (N.Hart – Humas)
Baca Selengkapnya...

 

TOKOH